Elly menghampiri Rea.
Elly : “Rea..! Ungu.. Ungu.. Pasha cakep banget.”
Rea : “Iya, gue tau.”
Elly : “Gue pingin ketemu, nih..”
Rea : “Iya, deh. Gue doain.”
“Ry, kenapa sih, semua orang suka Ungu? Ungu itu.. kan warna janda. Kayaknya.. kurang cocok buat remaja-remaja seumuran aku. Tapi, kenapa mereka suka banget? Kayak apa sih, Ungu itu? Apa bagusnya mereka?”
Kemudian, Rea menutup buku hariannya yang bersampulkan kertas warna biru. Warna favoritnya.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Sudah satu minggu, sejak Elly ingin bertemu Ungu. Terutama Pasha.
Rea duduk di bangku taman sekolah. Ryan, cowok yang lagi PDKT sama Rea datang.
Ryan : “Hai, Re!”
Rea : “Hai!”
Ryan : “Ng.. Re, malam minggu besok, lo ada acara, ga?”
Rea : “Nggak ada, tuh. Emang kenapa?”
Sebelum Ryan menjawab pertanyaan Rea, tiba-tiba Elly datang.
Elly : “Rea!”
Rea : “Ada apa, El?”
Elly : “Be, besok, malam minggu, lo udah denger kabar, apa belum?”
Rea : “Malam minggu besok kenapa? Ada apa?”
Elly : “Ungu dateng ke kota kita.”
Rea : “Oh ya? Wah, seneng dong, lo?”
Elly : “Iya. Tapi.. bantuin gue ketemu, dong..!”
Rea : “What?!”
Kemudian, Ryan menengahi.
Ryan : “Elly.. Elly.. please, deh! Ketemu Ungu itu, ga gampang. Bodyguard-nya banyak. Gede-gede, lagi.”
Elly : “Aduh, gue pingin banget, nih!”
Rea : “Oke. Gue usahain, deh.”
Elly : “Beneran?”
Rea menganggukkan kepala. Lalu, Elly pergi. Tinggallah Rea dan Ryan berdua kembali.
Rea : “Ng.. Yan, kebetulan nih, kan malam minggu besok, gue sama Elly mau nonton Ungu. Lo ikut, yah. Sekalian.. jagain kami berdua. Kami.. kan cewek..”
Ryan dengan senang hati langsung menerima ajakan itu.
Elly sibuk sekali. Ia mencari poster super gede Ungu, untuk dibawa saat nonton konser itu.
Tibalah hari, di mana Ungu akan datang. Sejak pagi hingga sore, Elly tidak bisa diam. Ia sangat bersemangat. Ia megenakan baju serba ungu. Rea dan Ryan menjemputnya.
Ryan : “Wah, Elly serba ungu, nih.”
Elly : “Harus. Biar nanti Pasha ngelirik gue. Gue bakalan jatuh pingsan, nih.”
Dengan bantuan Ryan, mereka bisa menerobos kerumunan penonton. Mereka rela terjepit dengan penuh sesak. Seakan, seluruh warga kota Bandung tumpah ruah di alun-alun. Tetapi, Ryan, Rea dan Elly terus berusaha mereka pun berhasil sampai di bibir panggung. Alias di depan sendiri.
Elly : “Pasha!!”
Di atas panggung, Ungu sedang beraksi. Membius semua orang dengan lagu-lagu cintanya. Elly jingkrak-jingkrak mengikuti irama yang sedang diaksikan oleh Ungu.
“Ku melayang bagaikan terbang ke awan/ Ku terawang dalam buai bayang-bayang kelam.” (Bayang Semu – Ungu)
Kemudian, mereka jalan lagi. Capek banget. Berdesak-desakan dengan banyak orang. Sampai akhirnya mereka berhenti di ujung pagar pembatas panggung sebelah kanan.
Ryan : “Kalo masuk ke belakang panggung, kan enak.”
Rea : “Belakang panggung?”
Rea memikirkan cara, agar bisa masuk ke belakang panggung.
Rea : “Belakang panggung, kan..”
Elly : “Duh.. gue ngebet banget, nih..”
Rea : “Oke. Gue ada cara.”
Rea bertanya pada salah satu penjaga keamanan.
Rea : “Pak, boleh masuk, ga? Berdua aja.”
Penjaga Keamanan : “Ga boleh, dek. Khusus kru.”
Rea : “Ga boleh, yah? Soalnya, temen saya pingin banget ketemu.”
Lalu, seseorang yang mengenakan kartu identitasnya sebagai kru datang mendekati mereka.
Orang : “Ada apa ini?”
Penjaga Keamanan : “Adik-adik ini pingin masuk.”
Orang itu memperhatikan Rea dan teman-temannya.
Orang : “Kayaknya.. saya pernah liat kamu, deh. Siapa, ya?”
Rea : “Ng.. rasanya.. aku pernah kenal, deh. Kamu.. kan..”
Orang : “Rea, yah?”
Rea : “Stanley?”
Stanley : “Right. Rea, how are you?”
Rea : “Fine-fine aja. Lama ga ketemu, jadi hampir lupa.”
Stanley : “Iya. Sudah.. tiga tahun.”
Rupanya, Stanley akrab dengan Rea. Rea adalah seorang penyanyi lokal. Ia bernyanyi di kafe dan undangan. Sedangkan Stanley, dia teman Rea. Sama-sama entertainer lokal. Tapi, Stanley pemain theater.
Rea : “Ng.. kamu kru juga?”
Stanley : “Iya. Aku management promotornya.”
Rea : “Oh ya? Wah, kebetulan, nih!”
Rea menceritakan keinginan Elly, untuk bertemu Ungu. Sebelumnya, Rea memperkenalkan Elly dan Ryan dulu pada Stanley.
Stanley : “Oh, why not? I’ll help you all to meet with Ungu. Come on, follow me!”
Di antara mereka, Rea lah yang paling bersemangat. Padahal, Elly lah yang seharusnya begitu.
Stanley mengajak Rea dan teman-temanya ke sebuah ruangan.
Stanley : “Sebentar lagi, Ungu turun dari panggung, untuk istirahat. Ruangannya di sini. Kalian tunggu aja.”
Elly : “Hah? Tinggal menunggu? Ga usah berdesak-desakkan sama bodyguard?”
Stanley : “Ga usah.”
Elly : “Wah! Seneng banget gue..!”
Setelah itu, Stanley pergi.
Tak lama kemudian, di luar terdengar suara berisik. Membuat Rea, Elly, dan Ryan ingin tau. Mereka pun keluar. Mereka melihat Ungu baru aja turun dari panggung, dengan digiring oleh para bodyguard. Para penggemar berteriak-teriak, dan berusaha melompati pagar pembatas. Tapi tak berhasil.
Elly : “Ungu?!”
Rea : “Udah, sapa, gih!”
Elly : “Gue malu. Ayo dong, Re. Lo duluan.”
Rea : “Gue?”
Elly : “Please..!”
Rea : “Tapi, El.. Yang bener aja. Masa` gue, sih?”
Elly : “Gue ngebet banget, nih..”
Rea : “Aduh, gimana, yah?”
Pasha sudah hampir tiba di depan mereka. Saat tiba..
Bodyguard : “Ayo, minggir! Ungu mau masuk!”
Tiba-tiba..
Rea : “Pak Bodyguard, kami nge-fans banget sama Pasha. Please, Pak! Kami pingin banget foto bareng Pasha. Please, Pak!”
Bodyguard-bodyguard itu tidak mengizinkan. Sedangkan Pasha diam saja.
Rea : “Pasha! Aku fans sejatimu! Pasha! Udah tiga tahun aku nunggu, agar bisa ketemu sama kamu. Pasha!”
Para personel Ungu sudah di dalam ruangan. Pasha mendengar kata-kata fansnya itu. Kemudian, tanpa pengawalan ketat, Pasha keluar dari ruangan itu.
Pasha : “Sorry. Mungkin, ini bukan kesempatan bagus untuk ngobrol. Ng.. ini nomor handphone aku. Kita telpon-telponan aja, yah.”
Rea : “Apa?”
Rea, Elly dan Ryan tidak menyangka, kalau Pasha akan ngasih nomor handphone-nya segala. Lalu, Pasha masuk lagi.
Elly : “Ini, nomor handphone-nya Pasha?”
Rea : “Hah?”
Ryan : “Asyik, dong..”
Keesokan harinya, di rumah Rea. Elly penasaran ingin telpon Pasha. Makanya datang ke rumah Rea.
Rea : “Ng.. coba deh, gue telpon dulu.”
Rea mencoba menghbungi nomor handphone Pasha Ungu. Nyambung!
Pasha : “Hallo!”
Rea : “Ha, hallo! Ini.. Pasha, kan?”
Pasha : “Iya. Kamu siapa?”
Rea : “Aku.. fans kamu, yang kemarin kamu kasih nomor handphone.”
Pasha : “Oh, terus mau ngapain?”
Rea : “Aku.. mau.. aku pingin ngobrol sama kamu. Boleh, kan?”
Pasha : “Aduh, aku lagi sibuk, nih. Kapan-kapan aja, yah.”
Rea : “Oh, iya, deh.”
Pasha menutup telponnya.
Elly memandang Rea dengan beribu pertanyaan terpendam.
Elly : “Gimana?”
Rea : “Udah. Beres. Ternyata emang Pasha.”
Elly : “Wah.. seneng banget. Ng.. lo dulu ya, yang kenalan. Trus gue. Lo tau kan, gue ini orangnya suka nervouse.”
Rea : “Iya. Gue akan bantu lo. Semamu gue. Oke?”
Elly : “Oke.”
Rea tak pernah punya tokoh idola dari dalam negeri. Idolanya selalu dari luar negeri. Seperti Linkin` Park, Boyzone, Backstreet Boys, N`Sync, dan lain-lain. Tapi, yang paling utama adalah Robbie Williams. Mantan personil Take That itu. selera musik yang cukup tinggi, bukan? Berkelas, pula.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar