Sabtu, 19 Juli 2008

Bab 2: Apaan Sih, Radja?

Suasana kelas 3 IPS A sedang tidak terlalu serius. Guru Ekonomi tidak masuk. Jam kosong itu pun digunakan untuk ngobrol, atau pergi ke perpustakaan. Pokoknya, nyantai, deh.

Rea dan Elly pergi ke laboratoium komputer.

Elly : “Re, ada band keren namanya Radja. Lagu-lagunya bagus, deh. Kemarin, gue baru beli kasetnya.”

Rea : “Enak kayak gimana pun, gue tetep ga suka lagu dalam negeri. Kebanyakan plagiator1.”

Elly : “Yang ini lain, kali. Lo coba denger dulu, deh.”

Saat lagi browsing, kebetulan, Rea melihat apa yang sedang dibaca oleh Elly. Ada gambar seorang cowok dengan rambut jabrik, berkaca mata hitam. Ganteng banget.

Rea : “Yang ini siapa, El?”

Elly : “Ini namanya Ian Kasela. Dia ini, vokalisnya Radja. Suaranya, T-O-P B-G-T, deh. Top banget!”

Rea : “Ya udah, gue coba denger dulu.”

Elly : “Nah, gitu, dong!”

Elly meminjamkan kaset dan VCD Radja pada Rea.


Malamnya, Rea memutar kaset itu. suara alunan lagu yang merdu pun mulai terdengar.

Aku hanyalah manusia biasa/ Yang tak pernah lepas dari khilaf/ Ku mencoba merubah segalanya/ Mungkin ada kesempatan../” (Manusia Biasa Radja)

Rea : “Kok enak?”

Rea mencoba untuk terus mendengarkan lagu-lagu yang ada di kaset itu. lagu selanjutnya..

Biarlah hitam menjadi putih/ Tetaplah kau jadi milikku/ Jangan merasa dirimu masih sendiri/ Tetaplah engkau di sisiku/” (Tetaplah Kau Jadi Milikku Radja)

Benar-benar aneh. Rea mulai suka.


Keesokan malamnya, Rea masuk kerja, sebagai penyanyi di kafe elit Bandung.

Rea : “Dosakah aku, bila dicintaimu/ Bila jalinan hati kini menderaku/ Ku kini terjerat karenanya/ Susah lepaskan.. dia/”

Semua pengunjung yang hadir, terbius dengan suara merdu Rea.

Rea : “Jalannya cinta nodai hati../ Aku dicinta jalinan tiada pasti/ Dan aku tak harus terkalahkan/ Dan diriku terabaikan/ Ku ikuti jalannya hati..” (CahayaKrisdayanti)

Setelah menyelesaikan lagunya, Rea istirahat dulu. Dan diganti oleh penyanyi lain. Kemudian, ada seseorang mendekati Rea.

Suara kamu merdu banget.” Seorang cowok berbadan atletis dan cute banget. Plus wajah tampan dan kacamata biru.

Rea : “Terimakasih. Kamu siapa?”

Cowok itu duduk di samping Rea.

Ternyata, meskipun fansku ada di mana-mana, masih aja ada yang ga kenal aku.” Cowok itu membuka kacamatanya. Rea mengamati, dan..

Rea : “Ka, kamu kan.. yang nyanyi Jujur itu. Ian.. Radja. Ya, kan?”

Ian tersenyum.

Ian : “Bener.”

Rea : “Wah, surprise banget bisa ketemu kamu semudah ini.”

Ian tersenyum lagi.

Ian : “Mau ga, kamu nyanyi sama aku? Aku suka sama suara kamu.”

Rea : “Apa? Nyanyi bareng sama kamu? Yang bener?”

Ian : “Iya.”

Rea mengira, bahwa Ian tidak serius dengan kata-katanya.

Rea : “Sorry, aku ga bisa. Soalnya, aku.. lebih suka nyanyi di kafe.”

Ian : “Ayolah, suara kamu itu bagus banget. Sayang, kalau cuma dipake nyanyi di kafe. Kamu pikirin dulu, deh. Ng.. boleh minta nomer telpon kamu?”

Rea : “Ya, tentu. Ini..”

Rea memberikan kartu namanya. Ian pun memberikan kartu namanya juga.

Ian : “Aku sangat ingin nyanyi bareng kamu.”

Rea hanya tersenyum.

Rea : “Ya udahlah, aku pikir-pikir dulu, deh.”


Rea baru selesai menulis buku harian, dan bersiap-siap akan tidur. Kemudian, handphone berbunyi.

Rea : “Hallo!”

Ternyata Ian.

Ian : “Gimana? Kamu udah memikirkannya?’

Rea : “Ya belum, lah. Kan baru tadi kamu nawarin aku. Sekarang, aku ngantuk banget. Apalagi, besok aku harus sekolah. Ada ulangan. Ga sempet mikirin itu. Tolong deh, Ian. Jangan maksain, lah..”

Ian : “Marah, yah?”

Rea : “Aku tuh, ngasih pengertian. Bukan marah. Oke.”

Ian : “Ya udah. Met bobo, yah!”


Keesokan harinya, Rea cerita pada Elly, soal pertemuannya dengan Ian Kasela, si vokalis Radja.

Elly : “Yang bener, lo? Wah.. gue pingin kayak begitu, tapi sama Pasha aja..”

Rea : “Trus, enaknya.. gimana? Tawaran itu.. diterima, apa ga?”

Elly : “Enaknya sih, diterima. Tapi, kan kita udah deket sama yang namanya UNAS. Ujian Nasional. Okey…”

Rea : “Trus?”

Elly : “Ya, gini aja, lo kasih pengertian ke dia, sekali lagi. Bilang, kalau lo mau konsentrasi sekolah dulu.”

Rea : “Gitu, yah?”

Elly : “Ya iya, lah..”


Lagi-lagi, Ian Kasela telpon, saat Rea mau tidur. Tepat di jam yang sama seperti kemarin.

Rea : “Gini ya, Ian. Aku sih.. mau mau aja. Tapi.. aku mau UNAS. Aku harus konsentrasi sama itu dulu. Gimana?”

Ian : “Ng.. oke. Aku akan tunggu kamu. Tapi, aku mau kita nyanyi duet. Satu lagu aja. Ga pake dipublikasiin, deh. Biar ga ganggu aktivitas kamu. Kamu mau, kan? Shooting video klip-nya ga lama, kok. Cuma tiga hari. Kamu mau, kan?”

Rea : “Oke, aku mau.”

Ian : “Nah, gitu, dong. Oke. Besok, aku akan mulai atur jadwal kerjanya.”

Rea : “Iya, deh.”


Di studio milik Radja, Ian dan kawan-kawannya sibuk merencanakan jadwal kerja mereka yang baru.

Seno : “Lo serius, ngajakin tuh cewek nyanyi bareng?”

Ian : “Yup. Gue serius. Tuh cewek beda banget. Suaranya emas. Orangnya.. cantik. Pokoknya spesial, deh.”

Moldy : “Lo.. jatuh cinta, yah?”

Ian : “Ah, ga, kok.”

Indra : “Ian, lo udah punya Tarin. Jadi.. udah, deh. Ga usah ngebet sama yang lain.”

Ian : “Ndra, gue cuma pingin bantuin tuh cewek ngembangin talentanya.”

Seno : “Talenta..? Hah! Yang ada ngelurusin jalan ke pelaminan.”

Ian : “Udahlah! Gue ini serius mau jadiin Rea penyanyi cewek yang sukses.”


Dalam perjalanan pulang, Ian mulai memikirkan kata-kata Indra, Moldy, dan Seno. Mungkin mereka benar. Ian jatuh cinta pada Rea. Tapi, bagi Ian sendiri, belum pernah terlintas dalam benaknya, bahwa ia jatuh cinta pada Rea. Yang ada hanya kekaguman atas bakat yang dimiliki oleh. Rea. Itu saja.


Sesampainya di rumah, rupanya, Tarin sudah menunggu.

Tarin : “Ian, kamu dari mana? Hari ini, ga ada jadwal manggung, kan? Kamu jangan terlalu capek, yah.”

Ian hanya tersenyum.

Ian : “Aku.. mau tidur. Ngantuk.”

Tarin : “Ng.. kamu kan ngajakin aku dinner malam ini.”

Ian : “Aduh, gimana, yah? Masalahnya, aku capek banget. Besok aja, gimana?”

Tarin : “Oke, deh.”

Ian masuk ke kamarnya. Sedangkan Tarin langsung pulang.

Tidak biasanya Ian begini. Tarin adalah tunangannya sejak setahun yang lalu. Seorang cewek yang ia pilih dari sepuluh cewek yang ditawarkan ayahnya. Bukan berdasarkan cinta. Tapi, Ian tidak pernah bersikap buruk padanya. Malah, Ian pernah mencoba untuk mencintainya. Namun tak pernah bisa. Hari ini, sikap Ian aneh. Tiba-tiba saja membatalkan acara dinner yang sudah disepakati.

1 Suka meniru hasil karya orang lain

Tidak ada komentar: