Sabtu, 19 Juli 2008

Bab 4: Ada Apa Di Balik Kebaikan Hati?

Ian hanya tersenyum melihat Rea membangunkan dirinya.

Rea “Sekarang, kamu cepet cuci muka. Trus, kita sarapan bareng-bareng.”

Ian “Oke. Kamu tunggu aku di meja makan aja. Lima menit lagi, aku turun.”

Rea “Iya. Jangan tidur lagi, loh!”

Ian tersenyum lagi.

Senyuman Ian yang menawan, menyisakan kesan manis di hati Rea.


Ian : “Kamu pinter masak, yah?”

Rea : “Ga, kok. Cuma.. pernah belajar sama mama dulu.”

Wajah Rea jadi merah, saat dipuji.

Ian : “Bakat kamu.. banyak. Nyanyi, masak, kepribadian, dan.. pergaulan.”

Rea hanya tersenyum.

Kemudian, mereka mengganti topik pembicaraan.

Ian : “Ntar, kita berangkat siang aja. Kan, konsernya masih besok malem. Jadi, kita bisa.. jalan-jalan dulu. Gimana?”

Rea : “Asyik juga. Ng.. Ian, temen aku ada yang mau ikut. Dia nih, nge-fans banget sama Ungu. Boleh, kan?”

Ian : “Berapa orang?”

Rea : “Dua.”

Ian : “Boleh.”

Rea : “Makasih, yah..”


Elly sangat senang, saat diberitau, kalau dirinya boleh ikut. Ia pun memberitau Ryan untuk siap-siap. Awalnya, Ryan tidak mau.

Ryan : “Ga, ah. Gue ga ikut. Lo aja.”

Suara Ryan terdengar aneh. Elly bisa langsung menebaknya.

Elly : “Kenapa? Lo cemburu ngeliat Rea sama Ian makin deket?”

Ryan : “Terus terang, iya. Gue ga bisa liat itu. ga rela, El.”

Elly : “Gue ngerti. Tapi, lo harus terbiasa liat itu. Karena gue yakin, mereka tuh, saling suka. Udah, deh.”

Akhirya, Ryan mau juga.


Berangkatlah Ian, Rea, Elly, dan Ryan, ke Bogor, untuk nonton konser Ungu. Dalam perjalanan, di mobil mereka mendengarkan lagu-lagunya Ungu.

Maafkan aku../ Menduakan cintamu/ Berat rasa hatiku/ Tinggalkan dirinya/ Dan demi waktu yang bergulir di sampingmu/ Maafkanlah diriku/ Sepenuh hatimu../ Seandainya bila../ Ku bisa memilih..” (Demi WaktuUngu)

Itu adalah salah satu lagu yang mereka dengarkan, dan juga dinyanyikan bersama.

Elly : “Seandainya.. ada konser penuh warna dari seluruh penjuru dunia, gue yakin, Ungu bakal ikutan. Wah.. Blue, Pink, trus.. Rainbow, trus.. apa lagi, yah?”

Ryan : “Trus, lo bikin sendiri penyanyinya, yah. Udah ga ada lagi.”

Elly lagi kumat menghkhayalnya. Membuat Rea dan Ryan jadi risih. Karena Ian baru tau kali ini, ia malah tertawa.

Rea : “El, lo bawa obat, ga?”

Elly : “Obat apa?”

Ryan : “Obat syaraf, kale..”

Elly : “Yee.. emangnya.. gue gila, apa?”

Elly ngambek, deh. Ian pun langsung menghibur.

Ian : “Orang mengkhayal itu.. wajar, kok. Malah, kalau orang yang ga pernah ngucapin kata “andai”, itu perlu periksa ke ahli jiwa.”

Rea tertawa juga.

Rea : “I think so. But, Elly nih, kelewat, tau ga.”

Ryan : “Setiap ada Ungu, Nicholas Saputra, trus.. siapa lagi, tuh?”

Elly : “Ng.. Linkin` Park.”

Ryan : “Ah, iya. Pasti deh, bintang pun pingin digapai.”

Tiba-tiba.. Ian nyanyi.

Ian : “Ingin ku gapai bintang/ Yang hiasi sang malam/ Adakah satu harapan/ Yang mungkin ku dapatkan..” (AnginRadja)

Rea : “Kok malah nyanyi sih, Ian…”

Ian : “Refreshing, Rea..”

Rea : “Ih, kamu, tuh..”

Rea mencubit pipi Ian, gemes. Ryan yang menyaksikannya, jadi.. tambah deh, jeleouse-nya. Elly dapat menangkap gelagat itu dari sinar mata Ryan.


Sampailah mereka di Bogor. Mereka akan menginap di villa milik keluarga Rea.

Rea : “Dari pada nginep di hotel atau penginapan lain, mending di villa ini. Gratis, kok.”

Ian : “Rea, kamu tuh baik banget, deh.”

Rea : “Ya.. sebagai manusia, kita memang harus selalu baik. Walau pun yang namanya khilaf itu pasti ada.”

Ian tersenyum. Dalam hati, Ian jadi sangat mengagumi kepribadian Rea.

Di villa itu, ada empat kamar. Pas untuk mereka berempat. Juga ada dua orang pembantu dan satpam. Villa itu dekat dengan pemandangan alam yang indah. Bila duduk di teras belakang, atau sambil renang, bisa sambil lihat pegunungan menjulang tinggi dengan air terjun yang deras. Dari balkon samping lantai dua, bisa lihat sawah-sawah hijau terbentang bak permadani hijau. Dari balkon depan, kelihatan jelas yang namanya pemandangan indah. Ada taman bunga, taman mainan, dan.. kelihatan danau.

Rea : “Villa ini udah lama ga ditempatin. Soalnya, gue juga jarang liburan ke Bogor. Cuma.. kalau ada nyokap sama bokap doang. Jauh, sih.”

Elly : “Re, gimana, kalau sekarang, kita telpon Pasha? Bilang, kita pingin ketemu besok, abis dia manggung.”

Ian : “Kalian punya nomor-nya?”

Elly tertawa bangga.

Elly : “Punya, dong..!”

Ian : “Yang ngasih?”

Rea : “Pasha sendiri.”

Ian : “Kok bisa?”

Dengan semangat `45, Elly menceritakannya.

Tengah Elly dan Ian ngobrol, Rea merasa, Ryan ga sama mereka. Rupanya, Ryan lagi berdiri di balkon depan. Ryan merasakan kehadiran Rea.

Ryan : “Pemandangannya indah, ya, Re..”

Rea tidak menghiraukan ucapan itu. Malah..

Rea : “Ryan! Lo.. kok menyendiri, sih?”

Ryan menoleh pada Rea, dan tersenyum. Senyuman itu agaknya dipaksakan.

Rea : “Ng.. akhir-akhir ini.. mendadak lo jadi pendiem. Biasanya.. lo kan rame. Ada apa? Lo ada masalah, yah?”

Ryan tersenyum lagi dengan senyuman yang sama.

Ryan : “Ga. Gue ga pa-pa, kok. Biasa aja, lagi.”

Rea : “Ya udah, kalau lo ga pa-pa.”

Kemudian, Rea kembali bersama Ian dan Elly. Keduanya masih tertawa.

Ian : “Eh, Rea! Sini, deh.”

Rea : “Apa?”

Ian : “Boleh ga, aku ngomong sesuatu?”

Rea tersenyum tanda memberi izin.

Ian : “Kamu tuh.. baik banget, ramah, murah hati, berbakat dalam banyak hal, dan yang pasti.. cantik.”

Rea hanya tersenyum. Tapi wajahnya jadi merah.

Elly yang menyaksikan itu, merasa, seakan kedua temannya ini sedang terjangkit virus cinta.

Sedangkan Ryan, menyaksikan itu, sama halnya merasakan cabikan benda tajam di seluruh tubuhnya. Cemburu dan tak rela itu yang menyebabkannya.

Canda tawa Ian dan Rea berlanjut sampai berkejar-kejaran di taman bunga. Sembunyi di balik pohon, trus, lari-lari lagi. Sehingga keduanya jatuh ke rerumputan. Kedua mata mereka saling menatap.

Rea : “Ian, kenapa kamu baik banget sama aku?”

Ian : “Aku ga tau kenapa.”

Mereka tertawa lagi, dan berkejar-kejaran sampai ke teras belakang. Ian tiba-tiba terpeleset dan tercebur ke kolam renang. Dengan sigap, dia juga menarik tangan Rea. Rea juga tercebur. Keduanya kembali bertatapan.

Ian : “Sedangkan kamu, kenapa kamu juga baik banget sama aku?”

Rea : “Aku juga ga tau.”

Ian tersenyum.

Rea : “Biar aja terus begini. Sampai kita tau kenapa.”


Keesokan malamnya, Ian, Rea, Elly, dan Ryan nonton konser Ungu. Beruntung keempatnya pilih tiket VIP. Jadi, tidak perlu berdesak-desakkan.

Rea dan Elly sudah janji mau ketemuan sama Ungu. Terutama Pasha.

Alunan lagu Demi Waktu menjadi lagu penutup konser Ungu malam itu di Bogor.

Elly : “Ayo, Re.. buruan ke belakang panggung.”

Mereka keluar dari ruangan VIP dan langsung menuju ke belakang panggung. Tetap sayang. Security tidak mengizinkan.

Rea : “Pak.. tolong, deh. Sekali ini aja.”

Security : “Tetap ga bisa.”

Ian punya ide agar bisa masuk. Rupanya, ada yang Ian kenal dari salah satu kru promotornya. Ia pun menelpon orang itu.

Rupanaya, yang Ian kenal adalah manajemen promotornya konser tersebut. Dan, hebatnya lagi, orang itu adalah..

Rea : “Stanley?!”

Stanley : “Hey, Baby!”

Ian : “Jadi.. kalian udah kenal?”

Stanley : “Rea ini.. temen gue.”

Kemudian, Ian mengutarakan maksudnya untuk membantu Elly agar bisa bertemu Pasha. Stanley pun memberi izin.

Tidak ada komentar: