Stanley membawa Ian, Rea, Elly, dan Ryan ke sebuah ruangan.
Stanley : “Bentar lagi, Ungu istirahat. Ntar, gue ajak Pasha ke sini, deh.”
Rea : “I feel thankful to you, Man!”
Stanley tersenyum.
Tak lama kemudian..
Ada seseorang datang, masuk ke ruangan itu. dia adalah..
Elly : “Pasha!”
Rupanya, Pasha sudah datang. Dia mengenakan kaus oblong warna putih bertuliskan Ungu. Pasha tersenyum melihat Ian dan kawan-kawan.
Rea : “Pasha, akhirnya, kita bisa ketemu. Ga nyangka.”
Pasha : “Gue salut sama usaha lo, untuk bisa ketemu gue.”
Rea tersenyum.
Kemudian, pandangan Pasha tertuju pada Ian.
Pasha : “Eh, lo.. kan Ian Kasela. Pa kabar?”
Ian : “Baik.”
Pasha : “Mana.. Tarin?”
Ian : “Ga ikut. Kan.. ini.. acara gue. Jadi.. ga perlu ikutan. Dia.. kan ga begitu suka yang rame.”
Ian terlihat agak canggung menjawab, saat ditanya soal Tarin.
Rea : “Ian, kamu kenal sama.. Pasha?”
Ian : “Tentu.”
Rea : “Kok ga bilang, sih?”
Ian : “Kejutan buat kamu.”
Rea : “Ih.. kamu, nih. Selalu, deh.”
Malam itu memang benar-benar menyenangkan. Elly jadi ada kesempatan untuk foto bareng, minta tanda tangan, dan.. ngobrol sama Pasha.
Sedangkan bagi Ryan, dia.. makin jelouse aja. Karena, ia melihat Ian, semakin memanjakan Rea. Itu adalah hal yang paling menyebalkan baginya.
Saat kembali ke villa..
Ryan langsung masuk kamar dengan alasan, capek banget. Elly masih nonton tv. Katanya ada acara tv yang bagus. Sedangkan Rea.. setelah menaruh tas, dia duduk di teras belakang. Kemudian, Ian menyusul ke teras belakang.
Ian : “Kok sendirian?”
Rea tersenyum.
Rea : “Mau nemenin?”
Ian : “Oke. Sekalian, aku mau renang.”
Sementara Ian ganti baju, Rea membuatkan dua gelas air jeruk dingin.
Ian : “Kamu ga renang juga?”
Rea menggelengkan kepala.
Rea : “Udah malem. Ntar masuk angina, lagi”
Ian tertawa.
Rea : “Ng.. Ian, boleh aku tanya.. sesuatu, ga?”
Ian : “Apa aja.”
Rea : “Tarin itu.. siapa, sih?”
Pertanyaan itu.. akhirnya muncul juga. Apakah Ian harus jujur? Ian jadi diam.
Rea : “Apa.. dia.. pacar kamu?”
Ian : “Ng..”
Ian masih diam. Dari sikap diam itu, Rea menangkap sebuah jawaban. Bahwa Tarin memang pacar Ian. Tapi.. kenapa Ian tak mau cerita?
Liburan berakhir.
Sekolah kembali aktif. Kali ini, Rea mulai lebih serius belajar. Karena UNAS hampir tiba.
Suatu hari, Rea dan Elly sedang di laboratoium computer.
Rea : “Ng.. El, Ian Kasela itu.. udah punya pacar ga, sih?”
Elly : “Pacar?”
Rea : “Yup.”
Elly tertawa.
Elly : “Lo suka sama Ian, yah?”
Rea : “Ah, ngga, kok. Gue kan cuma tanya.”
Elly tertawa lagi, melihat tingkah Rea yang tidak mau mengakui perasaannya.
Elly : “Pacar.. kayaknya.. ga ada, deh.”
Rea tidak yakin dengan jawaban Elly.
Rea masih kepikiran. Apakah Ian sudah punya pacar atau belum. Karena penasaran, tapi tidak berani tanya pada Ian, Rea pun mengobok-obok dunia internet. Membuka semua situs yang membahas tentang Radja. Dan, ia temukan jawabannya.
“Sejak setahun lalu, Ian Kasela sudah tidak jomblo lagi. Katarina Novianti, model sekaligus bintang iklan terkenal. Beruntung banget, dia bisa jadi tunangan Ian Kasela. Rencananya.. bulan depan mereka akan melangsungkan pernikahan.”
Itulah berita yang dibaca Rea di internet sekolah. Entah kenapa, perasaannya jadi kacau. Ia berlari keluar dari laboratoium komputer. Melintasi halaman sekolah sambil menangis, menuju ke kelasnya. Dan.. ia menabrak seorang siswa. Ryan, siswa itu.
Ryan : “Rea, lo kenapa?”
Rea tidak dapat bicara, karena menangis.
Ryan mengajak Rea duduk di taman sekolah, untuk menenangkan pikiran.
Rea masih menangis. Aneh. Kenapa harus menangis? Bukankah.. ia dan Ian tidak ada hubungan apa-apa, kecuali teman? Tapi.. ia tetap merasa sangat sedih.
Ryan : “Rea, lo kenapa, sih?”
Rea masih belum mau menjawab.
Sudah dua hari Rea murung dan melamun. Tidak biasanya. Sampai seminggu kemudian, Rea tetap begitu.
Bibi kasihan melihati Rea sedih tanpa sebab yang pasti. Maka, diam-diam Bibi mencari nomer telpon Ian, dan memberi tau cowok itu, tentang keadaan Rea.
Ian langsung membatalkan semua jadwal shooting, dan segera ke Bandung.
Rea duduk di tepi kolam renang. Melamun.. lagi.
Dalam hati, Rea sebenarnya bingung. “Gue ini kenapa, sih? Ian.. dia bukan cowok gue. Kenapa gue harus sedih?”
Tiba-tiba, lamunannya buyar.
Ian : “Rea!”
Rea menoleh dengan lemah.
Ian mendekati Rea. Tapi..
Rea : “Kamu pulang aja, deh.”
Ian tidak mengerti maksud Rea.
Rea : “Kamu.. ga usah ke sini lagi.”
Ian : “Rea, kamu kenapa, sih?”
Rea tetap diam. Tegakah ia, tiba-tiba mengusir Ian? Ian tidak salah. Lalu, Rea berdiri berjalan mendekati Ian. Kemudian tersenyum.
Rea : “Ian, ke dalem aja, yuk.”
Ian jadi bingung dengan sikap Rea.
Ian : “Rea, kamu.. baik-baik aja, kan?”
Rea tersenyum.
Rea : “Emang aku kenapa?”
Ian : “Aku seneng, kalau kamu baik-baik aja.”
Rea berusaha menutupi rasa sedihnya.
Ian makin ingin dekat dengan Rea. Ia mulai sering merindukan gadis itu. Setiap malam, Ian suka menelpon Rea, sekedar melepas rindu. Setiap akhir minggu, Ian selalu menyempatkan diri menjenguk Rea di Bandung. Kalau tidak begitu, Ian jadi tidak bersemangat kalau sedang manggung. Sampai-sampai, ia sering kali membatalkan janji dengan teman, atau pun Tarin, bila sedang ingin bertemu dengan Rea.
Suatu hari..
Ayah Ian, mulai meminta Ian supaya segera menikahi Tarin. Ian bingung. Bila menikah dengan Tarin, dirinya tak akan leluasa lagi pergi ke Bandung, apalagi menelpon Rea tiap malam.
Rea : “Hanya dengan sedikit malu/ Akhirnya aku harus akui/ Keberadaan cintamu/ Dalam hatiku yang kau renangi/ Rasa resah singgah/ Bila terjadi perang/ Emosi kau dan aku..”
Rea sedang menyanyi di kafe tempatnya kerja.
Rea : “Ku inginkan cerita cinta/ Terindah bagaikan dalam dongeng/ Percintaan berhujankan rindu/ Asmara kita.. akankah lama..” (Hanya – Melly Goeslaw)
Malam ini, Rea menyanyikan apa yang ia rasakan. Sesuai isi hatinya.
Ian tidak bisa tidur. Lagu Boulevard milik Dan Byrd yang sendu itu menambah kesan bimbang di hatinya.
Ian : “Rea.. kenapa aku selalu inget kamu terus? Apa.. aku suka kamu?”
Ian mulai sadar, bahwa ia jatuh cinta pada Rea.
Rea turun dari panggung untuk istirahat. Kemudian, Rea merasa ada seseorang berdiri di sampingnya. Ia kira, Ian datang. Tapi.. bukan. Parfumnya beda.
“Suara kamu.. merdu banget.” Suara itu.. familiar banget. Tapi bukan Ian.
Rea menoleh, dan..
Rea : “Pa, Pasha..?”
Pasha, si vokalisnya Ungu itu, tiba-tiba ada di kafe tempat Rea biasa manggung.
Pasha : “Suara kamu.. bagus banget. Nyanyi bareng, yuk!”
Rea tersenyum. Seketika itu juga, kesedihannya luluh.
Rea : “Boleh.”
Pasha mengambil mic. Intro lagu dimainkan. Rea naik ke pentas. Para pengunjung kafe bertepuk tangan. Pasha dan Rea mulai bernyanyi.
Rea : “Tale as old as time/ True as it can be/ Barely even friends/ Than somebody bends/ Unexpectedly..”
Pasha : “Just a little change/ Small to say the least/ Both a little scared/ Neither one prepared/ Beauty and the beast..” (Bauty and The Beast – Celine Dion feat. Peabo Bryson)
Lantunan lagu ini menambah suasana romantis bagi yang dimabuk cinta. Diam-diam, Pasha menyukai warna vokal yang dimiliki Rea. Ia jadi bebalik nge-fans, nih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar