Sabtu, 19 Juli 2008

Bab 8: Masa Lalu Itu Datang Lagi

Tarin : “Bicara.. serius apa?”

Ian mengajak Tarin duduk di sofa. Berhadapan.

Ian : “Tarin, sebelumnya, aku minta maaf, kalau kata-kataku ada yang membuat kamu.. sakit hati. Tapi, cepat atau lambat, kamu pasti akan tau.”

Tarin masih bingung.

Ian : “Aku.. ga pernah mencintai kamu.”

Tarin : “Apa?”

Ian : “Tarin, sejak pertama kali kita kenal sampai detik ini, aku ga pernah mencintai kamu. Untuk sampai ke depan, aku berharap, ga akan pernah atau lebih tepatnya, jangan sampai jatuh cinta sama kamu.”

Ian akhirnya mengatakan hal ini. Tetapi, Tarin masih tidak mengerti.

Tarin : “Ian, kamu ngomong apa, sih? Aku bingung, deh.”

Ian : “Tarin, aku nikah sama kamu, hanya untuk membahagiakan ayah aku. Ga lebih.”

Tarin tercengang mendengar apa yang dikatakan oleh Ian.

Ian : “Aku.. sudah mencintai orang lain.”

Tarin : “Kenapa baru sekarang kamu ngomong kayak gini? Ga dari dulu-dulu aja.”

Ian : “Karena aku ga pingin nyakitin hati kamu. Itu aja.”

Tarin : “Trus, sekarang gimana? Terus terang aja, aku juga ga pernah mencintai kamu. Tapi, papaku. Kamu tau sendiri, kan? Keras.”

Ian tersenyum lega.

Ian : “Aku lega dengar respon kamu. Seperti yang aku harapin. Lebih, malah.”

Ian menghela nafas, lalu bicara lagi.

Ian : “Sekarang, kita kan ga mungkin langsung cerai. Dan aku, ga mau bikin kamu ga perawan lagi. Maka, kita harus pura-pura di depan banyak orang. Gimana?”

Tarin : “Aku setuju. Tapi, kalau seumpama orang tua kita minta cucu?”

Ian : “Itu bisa diatur. Kan masih banyak bayi-bayi yang butuh uluran tangan kita.”

Ian benar-benar bahagia hari itu. Maka, dirinya dan Tarin sepakat untuk tidur pisah kamar, dan hidup sendiri-sendiri. Namun, bila ada orang tua atau saudara mereka, barulah sandiwara di mulai.

Saking senangnya, Ian pun berniat untuk memberi tau Rea. Tapi, niat itu diurungkan. Mengingat, sekarang Rea adalah pacar Pasha.


Suatu hari, Radja diundang untuk tampil di sebuah acara di Malaysia. Tidak hanya Radja. Tapi juga Slank, Peterpan, dan Dewa. Tapi, Radja adalah tamu special. Ian menikmati acara itu. dan itu membuat Radja bisa tampil sempurna. Maka, sejak saat itu, banyak orang dari mancanegara yang menyukai Radja. Berangkat dari situ, Radja pun go international.

Ian makin sibuk, sampai jarang pulang ke Indonesia.


Di London..

Rea sekolah mengambil bidang pembuatan film. Ia mendalami di bagian penyutradaraan. Tapi, ia juga tak meninggalkan dunia tarik suara.

Suatu hari..

Katty, teman kuliyah Rea datang menemui Rea.

Katty : “Do you want come with me to take part in meet and great program with my idol?”

Rea : “Mm.. how is it?”

Katty : “Please.. If I don’t come with my friend, my mom will never allow me.”

Katty terlihat memelas.

Rea : “Oke. Ill follow you.”

Perilaku Katty mengingatkan Rea pada Elly, sahabatnya yang sangat menyukai Ungu. Gimana kabar Elly, Pasha, dan Ryan, yah? Ian.. ternyata, Rea masih ingat.


Katty dan Rea berangkat ke tempat acara pakai mobil Katty.

Rea : “May I know what`s your idol`s name?”

Katty : “They called them self is The King.”

The King? Artinya adalah.. raja.

Rea : “Where are they come from?”

Katty : “You don`t know?”

Rea : “Nope. So?”

Katty : “They are from your country. Indonesia. Unfortunately, Ian Kasela, vocalist of this group band has not single. He was married.”

Rea tercengang. Kenapa Radja bisa sampai ke Inggris? Ngapain? Apa Ian tau ada dirinya di London ini? Tau dari mana? Pasha? Ga mungkin. Elly, Ryan? Ga mungkin teman-teman mengkhianati dirinya.

Rea : “Are you seriouse, they are Radja from Indonesia?”

Katty : “Yes, that`s it. Their true name. why? You know them?”

Rea : “Oh, no.. I don`t know them.”

Rea harus bisa melupakan Ian. Harus bisa. Tidak boleh tidak bisa. Tapi, bagimana caranya? Sekarang saja, dirinya akan bertemu dengan Ian.


Sampailah di tempat acara. Sudah ramai.

Rea : “Katty, I’ll wait you in the car better.”

Katty : “No. You have to come with me.”

Aneh. Rea tak sanggup menolak. Katty membawa poster jumbo Radja dan beberapa foto. Rea membantu membawakan. Dilihatnya, Ian yang masih seperti dulu. Tidak berubah.

Katty dan Rea sampai di meja Seno. Seno memandang wajah Rea.

Seno : “You`re looking so familiar, Girl!”

Rea : “Oh ya?”

Seno tersenyum. Rea berharap, mereka tidak akan ingat dirinya. Tapi, Moldy dan Indra juga merasa kenal dengan Rea. Tibalah di meja Ian. Ian sibuk menandatangani poster-poster milik fansnya. Jantung Rea berdetak amat kencang. Hingga tak sanggup lagi menahan diri. Maka..

Rea : “I, Ian..”

Ian menoleh, dan melihat siapa yang memanggil. Alangkah terkejut dirinya saat tau Rea ada di hadapannya.

Ian : “Rea..”

Rea : “Ian..”

Ian berdiri, dan langsung memeluk Rea di depan para fans.

Ian : “Rea..”

Rea tidak dapat menahan air mata.

Ian berbisik..

Ian : “Aku masih cinta sama kamu.”

Tapi, Rea lekas menyadari, bahwa Ian sudah menikah. Buru-buru, ia melepaskan diri dari pelukan Ian.

Rea : “Sorry, you get wrong girl.”

Rea buru-buru pergi.


Di mobil, Rea mulai bisa menangis dengan lega.

Katty : “Hey, Rea! You said, you dont know them. But, Ian know you.”

Rea : “Sorry.”

Katty : “So, you know them?”

Rea : “Ian.. Ian.. I love him still like before. I can't forget him, Katty. I can't forget him. Katty, Im still love him. Ian..”

Katty tidak paham maksud Rea. Tapi, ia tidak banyak tanya.


Para personel Radja kembali ke hotel. Mereka bersiap-siap akan segera berangkat ke China.

Moldy, Seno, dan Indra merasa antusias, karena akan singgah ke China.

Indra : “Gue suka banget sama bintang film Hongkong. Kungfunya itu, loh.”

Moldy : “Lagu-lagu mandarin juga asyik, kan?”

Seno : “Gue punya albumnya Andy Lau sama Jacky Chan. Trus, DVD film mereka juga ada.”

Lain dengan Ian. Ia malah ingat pada Rea. Gadis itu ada di London.

Ian : “Rea.. akhirnya aku menemukannya.”


Rea menelpon Elly.

Rea : “El, gue mau tanya sama lo.”

Elly : “Apa?”

Rea : “Apa bener, Radja go international?”

Elly : “Lo masih inget sama Radja?”

Rea : “Jawab dulu pertanyaan gue!”

Elly : “Iya, bener. Mereka lagi sukses-suksesnya go international saat ini. Kenapa memangnya?’

Rea : “Gue ketemu Ian, El.”

Elly terlonjak dari duduknya.

Elly : “Apa?! Kok bisa?! Kapan? Di mana?”

Rea : “Kemarin, di kota ini. London.”

Terdengar suara tawa bahagia Elly di telpon.

Rea : “El, pasti lo yang bilang sama Ian, kalau gue ada di London. Ya, kan?”

Elly : “Sejak Radja, atau Ian nikah, lo berangkat ke London, gue ga pernah ketemu mereka. Ya.. lo pasti tau kan, definisinya ‘kebetulan’?”

Rea masih tidak percaya dengan penjelasan Elly. Rea makin kesal.

Tidak ada komentar: