Ian pun menikah dengan Tarin. Mengundang banyak sekali tamu dari kalangan artis, teman Tarin, juga teman Ian. Ian juga mengundang Pasha, Rea, dan teman-teman di Bandung.
Rea : “Ian, selamat.. menempuh hidup baru. Aku doain, semoga kamu bahagia.”
Ian sedih mendengar itu.
Selesai acara resepsi pernikahan, Ian dan Tarin akan menginap di hotel, untuk malam pertama.
Tarin : “Ian, kita.. sekarang adalah suami-istri. Aku, sebagai istri kamu, akan berusaha membahagiakan kamu.”
Tiba-tiba..
Ian : “Ga perlu. Karena aku ga mungkin bisa bahagia.”
Tarin merasa heran dengan ucapan Ian.
Tarin : “Kamu ngomong apa, Ian?”
Ian menatap mata Tarin.
Ian : “Tarin, aku ga mencintai kamu.”
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Ian keluar dari kamar, dan pergi. Tarin sedih sekali. Ia bingung, ada apa dengan Ian?
Ian mengemudikan mobilnya menuju studio Radja. Dia akan bermalam di situ. Aneh juga. Kenapa baru sekarang dirinya bisa mengatakan hal itu?
Rupanya, di studio ada Seno, si drummernya Radja. Seno terkejut, saat melihat kedatangan Ian.
Seno : “Ian, lo ngapain di sini?”
Ian : “Gue mau nginep, lah!”
Ian nyantai banget jawabnya. Seno makin bingung.
Seno : “Bukannya.. lo harus tidur berdua sama binik lo?
Ian diam. Malah meemejamkan mata dan tidur.
Keesokan harinya, Moldy, Seno, dan Indra mulai menginterogasi Ian.
Indra : “Kalau lo ga mau sama Tarin, kenapa baru sekarang ngomongnya? Setelah kalian nikah, pula!”
Moldy : “Iya, nih! Kasihan Tarin yang ga tau kalau lo cinta sama Rea.”
Ian : “Gue juga bingung. Kenapa baru sekarang. Kalau seumpama dipaksain hidup sama Tarin, gue jamin, dia bakalan sering terluka.”
Seno : “Tapi, lo harus ngomong baik-baik sama Tarin. Jelasin gimana perasaan lo sekarang ini, ke dia.”
Ian pikir solusi dari Seno ada benarnya. Tapi, kalau Tarin marah, dan ingin mencelakakan Rea, gimana?
Rea mulai ujian akhir nasional. Ujian yang menentukan lulus atau tidaknya ia dari SMA.
Rea : “Gila! Matematikanya susah banget.”
Elly : “Lo, sih! Belajar cuma separoh-paroh.”
Rea : “Iya, sih. Tapi, gue kan yang penting belajar. Walau pun setengah-setengah.”
Suatu hari, Ian berniat menemui Rea, untuk mempertaruhkan cintanya. Ia masih tak rela bila harus jauh dari Rea.
Di rumahnya, Rea sedang kumpul bersama teman-temannya. Juga ada Pasha, Elly, Ryan dan beberapa teman sekolah. Pasha sudah tau, bahwa Elly lah, yang nge-fans dirinya. Bukan Rea. Elly juga menceritakan, bahwa Rea begitu baik, mau membantunya untuk bertemu Pasha. Pasha jadi kagum pada Rea.
Pasha : “Rea, kamu.. abis ini nerusin ke mana?”
Rea : “Kayaknya.. aku mau ke London, deh. Bareng keluarga.”
Kemudian, Elly ikut jawab.
Elly : “Pasha, aku.. mau.. jadi salah satu personil Ungu, boleh?”
Pasha tersenyum. Tapi Rea dan yang lain malah menertawakan.
Ryan : “Eh, El, katanya, lo nge-fans sama Ungu? Masa` lo ga kasian, sih?”
Elly : “Kasihan apa?”
Rea : “Kalau lo jadi personil Ungu, bakal cepet turun pamor, deh.”
Ryan : “Lo, nyanyi ga bisa. Maen musik.. ga pernah. Trus, lo mau ngapain? Ngerusak?”
Elly jadi cemberut. Ngambek, deh. Pasha jadi tertawa.
Pasha : “Elly, lo cukup jadi temen gue aja. Jadi orang terkenal tuh, ga enak. Banyak gosip.”
Hubungan antara Pasha, Rea, dan teman-teman Rea memang semakin akrab. Apalagi, Pasha dan Rea sering bertemu dan jalan-jalan berdua. Pasha dan Rea semakin saling mengenal.
Kemudian..
Ian datang.
Ian : “Rea!”
Rea menoleh dan amat terkejut.
Rea : “I, Ian? Ka, kamu.. kok di sini?”
Ian : “Rea, aku cinta kamu.”
Rea tidak menjawab apa-apa.
Semua orang terpana melihat kedatangan Ian. Rea sendiri sebenarnya kaget. Pasha juga sama kagetnya.
Ian : “Aku ga bisa jauh dari kamu.”
Rea bangkit dari duduknya.
Rea : “Ian, sorry, mulai sekarang kamu jangan ke sini lagi. Aku ini, pingin hidup tenang. Ngerti, kan? Lagian, aku udah ga ada perasaan apa-apa lagi sama kamu. Jadi, silahkan kamu pergi.”
Ian : “Kata-kata ini, bukan dari lubuk hati kamu. Kamu ga tulus ngomongnya.”
Rea tersenyum. Lalu..
Rea : “Ian, aku udah punya pacar. Jadi, jangan lagi kamu ganggu aku. Ngerti?!”
Ian terperanjat.
Rea : “Pasha!”
Aneh. Pasha tambah bingung. Akting Rea terkesan terlalu serius. Tapi, Pasha memenuhi panggilan Rea.
Pasha : “Ada apa, Rea?”
Rea : “Bilang sama dia, tentang hubungan kita.”
Pasha : “Ya. Gue sama Rea.. pacaran.”
Semua orang semakin tercengang. Karena, mereka tidak tau yang sebenarnya. Apalagi Ian. Kemudian, ia pergi meninggalkan rumah Rea.
Setelah Ian benar-benar pergi, Rea malah langsung masuk kamar. Menangis. Timbul rasa sesal.
Rea : “Harusnya, ga gini. Ian.. maafin aku..”
Pasha, Elly, dan Ryan menyusul Rea.
Elly mengetuk pintu kamar Rea.
Elly : “Rea!”
Tidak ada sahutan dari dalam.
Elly : “Rea, ini gue Elly. Gue boleh masuk, ga?”
Belum ada respon. Tapi, Elly tetap masuk.
Elly : “Rea..”
Elly menyentuh pundak Rea. Rea menoleh, lalu memeluk Elly sambil menangis.
Rea : “Elly, gue masih cinta sama Ian. Gue ga sanggup ngelupain dia.”
Elly : “Iya, gue ngerti.”
Elly mengelus-elus kepala sahabatnya dengan lembut.
Ryan masuk.
Ryan : “Lagian, ngapain sih, dia ke sini? Ga tau malu banget! Kan dia udah punya istri.”
Pasha : “Namanya juga cinta. Itulah yang terjadi. Konflik hatinya makin parah.”
Rea : “Pasha, sorry, tadi.. aku ga bermaksud..”
Pasha : “Aku tau. Tenang aja.”
Dalam perjalanan pulang, Ian marah pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya begitu bodoh dan tidak tau malu, meminta seorang gadis perawan yang masih lajang pula, untuk menerima cinta dari suami orang lain. Tapi, harus bagimana lagi? Dirinya begitu mencintai Rea. Dan tak pernah menyangka, akhirnya akan seperti ini. Rea sudah jadi milik Pasha.
Rea berangkat ke London. Meninggalkan semua duka dan laranya yang amat dalam. Meninggalkan kenangannya bersama Ian Kasela yang teramat pedih.
Pasha mengantar ke bandara.
Pasha : “Hati-hati di London! Jangan lupa kasih kabar kalau udah sampe.”
Rea : “Iya.”
Rupanya, pesawat terlambat. Maka, Pasha pun masih menemani Rea.
Pasha : “Rea, boleh aku.. tanya sesuatu? Sebelumnya, aku minta maaf.”
Rea : “Tanya apa, sih?”
Pasha : “Apa.. kamu ga berat ninggalin Ian? Apa kamu setega ini bikin dia merana?”
Rea diam.
Pasha : “Lalu, apa.. yang akan kamu lakukan, kalau kamu kembali ke Indonesia, trus Ian masih mencintai kamu?”
Rea akhirnya menjawab..
Rea : “Ga tau.”
Pasha memahami arti dari jawaban itu.
Ian makin kalut. Ia bingung. Apalagi, sekarang ia harus tinggal seatap dengan Tarin. Sekamar, pula. Hari pertama di rumah mereka, Ian mulai bikin ulah. Ian tidak mau tidur satu kamar, apalagi satu ranjang dengan Tarin.
Tarin : “Kamu tuh kenapa sih, Ian?”
Ian : “Tarin, kayaknya kita perlu bicara serius.”
Tarin jadi tidak mengerti. Sikap Ian berubah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar