Sabtu, 19 Juli 2008

Bab 6: Betapa Sulitnya Menyadari Sebuah Perasaan Cinta

Ian datang ke rumah Rea. Entah kenapa, ia jadi sangat rindu. Tapi, Rea tidak ada. Masih belum pulang dari kafe. Ian makin kacau perasaannya.


Kehadiran Pasha malam ini, agaknya tepat sekali. Vokalis Ungu itu sangat menghibur hati Rea. Apalagi, ternyata Pasha sangat ramah.

Rea : “Pasha, kamu ramah, ya? Kirain kamu.. dingin gitu. Soalnya, pas pertama kali ketemu kamu.. kayaknya cuek banget.”

Pasha tersenyum.

Pasha : “Ya.. maklum, lah. Kan ga kenal. Kalau sekarang.. kita temen, deh. Oke?”

Rea tertawa senang. Andaikan Elly tau.. wah.. dia bakal seneng banget.

Tengah ngobrol..

Rea!” Seorang cowok memanggil nama Rea.

Rea menoleh, dan..

Rea : “Ian?”

Pasha juga terkejut.

Pasha : “Eh, lo, Ian?”

Ian tidak peduli dengan keberadaan Pasha. Ia malah menatap mata Rea lekat-lekat.

Ian : “Rea, aku.. pingin ngomong sama kamu.”

Setelah pamit pada Pasha, Rea ikut Ian keluar dari kafe.

Ian : “Rea, aku tau jawabannya. Kenapa aku begitu baik sama kamu.”

Rea menatap Ian.

Ian : “Itu karena.. karena.. aku.. mencintai kamu.”

Rea tidak tahan lagi. Ia menundukkan kepala. Matanya berkaca-kaca ingin menangis.

Ian : “Jujur aja, aku baru sadar akan hal ini. Padahal, aku sudah merasakannya sejak kita pertama kali kenal.”

Air mata tumpah membasahi wajah Rea.

Rea : “Kenapa harus aku? Kenapa kamu harus mencintai aku? Padahal, kamu jelas-jelas tau, kalau kita ga mungkin bersama. Parahnya lagi, kenapa aku juga baru sadar, kalau aku, juga cinta sama kamu? Aku bingung, Ian..”

Ian : “Siapa bilang kita ga mungkin bersama? Aku akan selalu ada di sisi kamu.”

Sebenarnya, Rea berat mengucapkan ini. Tapi ia harus. Ia mengangkat wajahnya.

Rea : “Bagaimana sama Tarin? Katarina Novianti, tunangan kamu.”

Ian terkejut. Dari mn Rea tau tentang Tarin?

Ian : “Maaf, kalau selama ini, aku menutupi sebagian hidup aku, dari kamu. Memang, aku bertunangan sama Tarin. Tapi aku ga mencintai dia. Dia adalah gadis pilihan ayahku.”

Rea : “Lalu, apa kamu akan ninggalin dia?”

Ian menundukkan kepala.

Ian : “Aku ga tau. Tapi yang pasti, aku ga ingin nyakitin hatinya, walaupun aku ga mencintai dia.”

Rea jadi merasa iba pada Ian. Kemudian, ia memeluk Ian dengan erat.


Rea curhat pada Elly dan Ryan.

Elly : “What? Lo, sama Ian.. saling mencintai? Wah.. senengnya..”

Alangkah terkejutnya Elly dan Ryan akan hal itu. tetapi berbeda dengan Elly yang sangat senang, Ryan malah sebaliknya. Jelouse.

Rea : “Trus, gue harus gimana?”

Ryan tidak memberi komentar.

Elly : “Susah juga, sih. Tapi.. setahu gue, Katarina Novianti itu.. cakepan lo, kok. Pasti, Ian bakal berjuang, supaya bisa sama lo.”

Ryan buka mulut.

Ryan : “Lebih baik, sekarang, lo ga usah mikirin itu dulu, deh. Belajar aja. Sebentar lagi, kan UNAS.”

Elly : “Tapi Yan, itu ga akan nyelesaiin masalah.”

Rea merasa tidak dapat solusi dari kedua sahabatnya ini. Rea pun mencoba untuk curhat lewat lagu, saat bernyanyi di kafe.

Rea : “Memang aku mencintaimu/ Tapi aku juga menyadari/ Tak kan mungkin ku miliki dirimu/ Sedangkan dia pun mencintaimu/ Setiap wanita pasti ingin dimengerti/ Tak ingin terluka/ Ketika kekasihnya pergi/ Aku pun menyadari/ Aku juga wanita/ Ku tau bagimana perasaannya/ Bila kau tinggalkan dia/ Hanya demi aku..” (Jalan HidupNada Egan)

Pada saat Rea istirahat turun dari panggung, ternyata Pasha datang lagi.

Pasha : “Lagunya.. kok sendu banget?”

Rea hanya tersenyum.

Pasha : “Tapi.. enak, kok.”

Rea : “Makasih..”

Pasha merasa ada yang aneh di wajah Rea. Seperti kurang bersemangat, dan sedang banyak pikiran.

Pasha : “Rea, kamu.. ada masalah, ya?”

Rea : “Ng.. ga, kok. Aku.. ga ada masalah. Semua baik-baik aja.”

Pasha : “Rea, kamu ga bisa bohong. Karena, kelihatan jelas di wajah kamu.”

Rea terdiam. Lalu..

Rea : “Ya. Aku memang lagi ada masalah.”

Pasha : “Kamu bisa cerita sama aku. Kapan pun kamu mau. Mungkin, itu bisa bikin kamu merasa lebih baik.”

Rea : “Makasih, yah..”


Orang tua Ian dan orang tua Tarin sudah menentukan tanggal pernikahan.

Ian makin bingung. Apalagi, Tarin mulai sering mengajaknya keluar untuk memilih gaun pengantin. Beberapa media cetak dan media massa sudah meliput rencana pernikahan itu.

Berita itu sampai ke Bandung, dan Rea mengetahuinya. Hatinya benar-benar sedih.

Rea : “Ian.. kenapa harus kayak gini?”


Ian sedang melamun di studio musik milik Radja. Tangan kirinya memangku wajah. Tangan kanannya memainkan stik drum dengan lemah. Sebenarnya, ia ingin marah pada dirinya. Kenapa ia tidak berusah menolak pernikahan itu, dan berterus terang pada semua orang, bahwa dirinya mencintai Rea?

Ian!”

Ian menoleh. Rupanya.. Moldy.

Moldy : “Lo ngapain?”

Ian : “Ng.. Dy, kayaknya.. omongan lo waktu itu bener, deh.”

Moldy : “Omongan gue yang mana?”

Ian : “Gue.. jatuh cinta sama Rea.”

Moldy merasa, adiknya ini sedang dirundung masalah. Masalah asmara.

Moldy : “Jadi.. lo?”

Ian : “Iya. Gue mencintai Rea. Dan Rea, juga mencintai gue.”

Moldy : “Tarin?”

Ian : “Ini yang gue bingung. Gue ga cinta sama dia. Tapi, gue ga mau nyakitin dia.”

Moldy : “Sebenarnya.. lo pingin ninggalin Tarin, kan?”

Ian : “Yup.”

Moldy : “Susah juga, yah..”


Ian pergi ke Bandung, menemui Rea. Awalnya, Rea tidak mau menemui.

Rea : “Udahlah, Ian.. kamu pulang aja.”

Ian : “Ga, Rea. Aku ga bisa pulang gitu aja. Aku pingin di sini nemenin kamu.”

Rea : “Makasih, Ian. Tapi, aku pingin sendiri, dan ngelupain kamu. Tolong, Ian..”

Ian : “Rea, apa kamu udah ga mencintai aku?”

Rea : “Aku.. masih mencintai kamu. Tapi, aku lagi usaha untuk ngelupain kamu. Berusaha untuk ga mencintai kamu lagi. Walau pun aku tau itu sulit.”

Ian sedih mendengarnya. Ian memahami perasaan Rea.


Pasha datang ke rumah Rea. Ia sudah tau masalah Rea dengan Ian. Ia merasa kasihan pada gadis itu.

Pasha melihat kondisi Rea semakin tidak baik saja.

Pasha : “Rea, aku ngerti perasaan kamu. Tapi, jangan terlalu larut dalam kesedihan kayak gini. Ga baik.”

Rea terdiam. Lalu..

Rea : “Kamu bener. Buat apa aku sedih? Kalau Ian mau nikah sama tunangannya itu, aku bisa apa? Ga mungkin aku berantakin, apa lagi ngalangin. Ya, kan?”

Pasha : “Bener. Nah, mulai sekarang, kamu harus kembali bangkit. Semangat!”

Rea tersenyum.


Rea menyadari, bahwa jodoh itu ada di tangan Tuhan. Bila dirinya tidak bersama dengan orang yang dicintai, berarti itu bukan jodoh. Dan, Rea tidak akan mampu seandainya ingin menentangnya.

Maka, Rea memutuskan untuk bangkit meraih masa depan yang baru akan di mulai. Dirinya tidak akan sedih lagi, kalau Ian harus menikah dengan wanita lain.

Tidak ada komentar: